Selasa, 24 Juni 2014
Konfigurasi ACLS
KONFIGURASI ACLS PADA ROUTER
Seperti pada postingan saya sebelum-sebelumnya yang membahas tentang
router, kali ini kita juga akan mengkonfigurasikan router, yaitu tentang
ACLs ( Access Control Lists) di mana konfigurasi ini berfungsi sebagai
Traffic filtering yang meliputi :
1. Menganalisa Sebuah Paket
2. Allow (mengijinkan) atau Block (menahan) paket
3. Based on source IP, destination IP, MAC address, protokol,
application type
selanjutnya konfigurasikan router seperti gambar di bawah ini dengan
Soal ACLs :
• network 172.16.10.0 tidak bisa di akses oleh 172.16.40.0 dan yang
lainnya bisa mengakses netwrk 10
host 172.16.10.5 tidak bisa mengakses host 172.16.50.7
1. Konfigurasi pada Router 1
Router>ena
Router#conf t
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Router(config)#int fa0/0
Router(config-if)#ip add 172.16.10.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
Router(config-if)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
Router(config-if)#int fa1/0
Router(config-if)#ip add 172.16.20.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet1/0, changed state to up
Router(config-if)#int ser2/0
Router(config-if)#ip add 172.16.30.1 255.255.255.0
Router(config-if)#clock rate 64000
Router(config-if)#no shut
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial2/0, changed state to down
Router(config-if)#exit
Router(config)#
2. Konfigursi pada Router2
Router>ena
Router#conf t
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Router(config)#int fa0/0
Router(config-if)#ip add 172.16.40.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
Router(config-if)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
Router(config-if)#int fa1/0
Router(config-if)#ip add 172.16.50.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet1/0, changed state to up
Router(config-if)#
Router(config-if)#int ser3/0
Router(config-if)#ip add 172.16.30.2 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
Router(config)#int ser2/0
Router(config-if)#ip add 172.16.60.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
Router(config-if)#clock rate 64000
Router(config-if)#
3. Konfigurasi Pada Router 3
Router>ena
Router#conf t
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Router(config)#int fa0/0
Router(config-if)#ip add 172.16.70.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
Router(config-if)#int fa1/0
Router(config-if)#ip add 172.16.80.1 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet1/0, changed state to up
Router(config-if)#int ser3/0
Router(config-if)#ip add 172.16.60.2 255.255.255.0
Router(config-if)#no shut
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial3/0, changed state to down
Router(config-if)#
4. Koneksikan Antar Router dengan EIGRP
• Pada Router1
Router(config)#router eigrp 10
Router(config-router)#net 172.16.10.0 0.0.0.255
Router(config-router)#net 172.16.20.0 0.0.0.255
Router(config-router)#net 172.16.30.0 0.0.0.255
• Pada Router2
Router(config)#router eigrp 10
Router(config-router)#net 172.16.40.0 0.0.0.255
Router(config-router)#net 172.16.50.0 0.0.0.255
Router(config-router)#net 172.16.60.0 0.0.0.255
Router(config-router)#net 172.16.30.0 0.0.0.255
• Pada Router3
Router(config)#router eigrp 10
Router(config-router)#net 172.16.60.0 0.0.0.255
Router(config-router)#net 172.16.70.0 0.0.0.255
Router(config-router)#net 172.16.80.0 0.0.0.255
5. Konfigurasi ACLs
• network 172.16.10.0 tidak bisa di akses oleh 172.16.40.0 dan yang
lainnya bisa mengakses netwrk 10 (di setting Pada Router 1)
Router(config)#access-list 3 deny 172.16.40.0 0.0.0.255
Router(config)#access-list 3 permit any
Router(config)#int fa0/0
Router(config)#ip access-group 3 out
• host 172.16.10.5 tidak bisa mengakses host 172.16.50.7 (di setting
Pada Router2)
Router(config)#access-list 9 deny host 172.16.10.5
Router(config)#access-list 9 permit any
Router(config)#ip access-group 3 out
Jumat, 02 Mei 2014
VLSM
VLSM atau Variable Leght Subnet Mask adalah pengembangan mekanisme
subneting, dimana dalam VLSM dilakukan peningkatan dari kelemahan
subneting klasik, yang mana subneting klasik, subneting zeroes, dan
subnet ones tidak bisa digunakan. Jika proses subnetting yang
menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama telah
dilakukan, maka ada kemungkinan di dalam segmen - segmen jaringan
tersebut memiliki alamat - alamat yang tidak digunakan atau membutuhkan
lebih banyak alamat. Untuk memaksimalkan penggunaan ruangan alamat yang
tetap, subnetting diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk beberapa
subjaringan dengan ukuran yang bervariasi yang diturunkan dari netmowrk
identifier yang sama. teknik subnetting ini disebut dengan Variable
Length Subnetting. Subjaringan yang dibuat dengan menggunakan teknik ini
disebut dengan Variable Length Subnet Mask.
Dengan menggunakan Variable Length Subnetting, teknik subnetting dapat dilakukan secara rekursif maksudnya network identifier yang sebelumnya telah disubnetkan lalu disubnetkan kembali. Bit - bit network identifier tersebut harus bersifat tetap dan subnetting dilakukan dengan mengambil sisa dari bit - bit host dan teknik ini pun membutuhkan raouting yang baru (routing yang mendukung : RIPv2, OSPF, BGPv4).
Perhitungan IP Address dengan menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu network address lebih dari satu subnetmask. Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet, sebaiknya pengelolaan network memenuhi syarat:
1. Routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya.
2. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi.
Contoh penggunaan VLSM :
Diberikan IP Addres dengan network 192.168.1.0 /24 , dan semua komputer diatas harus mempunyai network 192.168.1.0 bagaimana solusinya ? dan inilah solusinya !
1. Kita harus mengetahui CIDR, berapa networknya, berapa hostnya dan berapa jumlah host yang valid. Jika belum mengetahuinya bisa lihat tutornya disini
2. Kita harus mengetahui jumlah host paling besar. dari contoh diatas host paling besar ada pada LAN A dengan 55 host. 3. Kemudian dari ip yang diberikan yaitu 192.168.1.0 /24 , kita pecah menjadi beberapa sehingga semua LAN dapat mendapat IP. Seperti Gambar Dibawah ini :
Dengan menggunakan Variable Length Subnetting, teknik subnetting dapat dilakukan secara rekursif maksudnya network identifier yang sebelumnya telah disubnetkan lalu disubnetkan kembali. Bit - bit network identifier tersebut harus bersifat tetap dan subnetting dilakukan dengan mengambil sisa dari bit - bit host dan teknik ini pun membutuhkan raouting yang baru (routing yang mendukung : RIPv2, OSPF, BGPv4).
Perhitungan IP Address dengan menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu network address lebih dari satu subnetmask. Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet, sebaiknya pengelolaan network memenuhi syarat:
1. Routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya.
2. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi.
Contoh penggunaan VLSM :
Diberikan IP Addres dengan network 192.168.1.0 /24 , dan semua komputer diatas harus mempunyai network 192.168.1.0 bagaimana solusinya ? dan inilah solusinya !
1. Kita harus mengetahui CIDR, berapa networknya, berapa hostnya dan berapa jumlah host yang valid. Jika belum mengetahuinya bisa lihat tutornya disini
2. Kita harus mengetahui jumlah host paling besar. dari contoh diatas host paling besar ada pada LAN A dengan 55 host. 3. Kemudian dari ip yang diberikan yaitu 192.168.1.0 /24 , kita pecah menjadi beberapa sehingga semua LAN dapat mendapat IP. Seperti Gambar Dibawah ini :
Langganan:
Postingan (Atom)

